Jerman Tingkat Inflasi
Harga
Harga
2,3 %
Perubahan +/-
-0,3 %
Perubahan Persentase
-11,54 %
Nilai saat ini dari Tingkat Inflasi di Jerman adalah 2,3 %. Tingkat Inflasi di Jerman menurun menjadi 2,3 % pada 1/6/2026, setelah sebelumnya 2,6 % pada 1/5/2026. Dari 1/1/1950 hingga 1/6/2026, rata-rata PDB di Jerman adalah 2,49 %. Rekor tertinggi sepanjang masa dicapai pada 1/10/1951 dengan 11,70 %, sementara nilai terendah tercatat pada 1/6/1950 dengan -7,62 %.
The current value of Tingkat Inflasi in Jerman is 2,3%. Tingkat Inflasi in Jerman decreased to 2,3% from 2,6%.Tingkat Inflasi in Jerman averaged 2,49% from 1/1/1950 until 1/6/2026.The all-time high was 11,70% (1/10/1951)and the record low was -7,62% (1/6/1950).
Tingkat Inflasi
Tingkat Inflasi
3 tahun
5 tahun
10 tahun
25 Tahun
Maks
Tingkat Inflasi Riwayat
| Tanggal | Nilai |
|---|---|
| 2,3 % | |
| 2,6 % | |
| 2,9 % | |
| 2,7 % | |
| 1,9 % | |
| 2,1 % | |
| 1,8 % | |
| 2,3 % | |
| 2,3 % | |
| 2,4 % |
Indikator Makro Serupa dengan Tingkat Inflasi
CPI Sachsen YoY
Bulanan
Harga Ekspor
Bulanan
Harga Grosir
Bulanan
Harga Grosir MoM
Bulanan
Harga Grosir YoY
Bulanan
Harga Impor
Bulanan
Harga Impor Bulanan
Bulanan
Harga Impor Tahun ke Tahun
Bulanan
Harga Konsumen yang Diharmonisasi
Bulanan
Harga Produsen
Bulanan
IHK Transportasi
Bulanan
Indeks Harga Konsumen (IHK)
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Baden-Württemberg YoY
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Bavaria YoY
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Brandenburg Tahun ke Tahun
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Hesse Tahun ke Tahun
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Inti
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Jawa Utara Tahun ke Tahun
Bulanan
Indeks Harga Konsumen untuk Perumahan dan Utilitas
Bulanan
Inflasi Energi
Bulanan
Inflasi Harga Produsen Bulan ke Bulan
Bulanan
Inflasi Layanan
Bulanan
Inflasi Pangan
Bulanan
Inflasi Sewa
Bulanan
Perubahan Harga Produsen
Bulanan
Tingkat Inflasi Harmonis YoY
Bulanan
Tingkat inflasi inti
Bulanan
Tingkat Inflasi MoM
Bulanan
Tingkat Inflasi yang Diharmonisasi MoM (Bulan-ke-Bulan)
Bulanan
Tingkat Inflasi
Di Jerman, kategori terpenting dalam indeks harga konsumen adalah Perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar lainnya (32 persen dari total bobot), Transportasi (13 persen), Rekreasi, hiburan & budaya (11 persen) serta Makanan & minuman non-alkohol (10 persen). Indeks ini juga mencakup Barang & jasa lainnya (7 persen), Perabot, peralatan penerangan, peralatan & peralatan rumah tangga lainnya (5 persen), Layanan restoran & akomodasi (5 persen), Kesehatan (5 persen) dan Pakaian & alas kaki (5 persen). Sisanya 7 persen dari indeks terdiri dari Minuman beralkohol & tembakau, Komunikasi dan Pendidikan.
Halaman makro untuk negara lain di Eropa
Apa itu Tingkat Inflasi?
Inflasi adalah salah satu indikator makroekonomi yang paling krusial dalam memahami kesehatan ekonomi suatu negara. Di situs kami, eulerpool, kami berkomitmen untuk menyediakan data ekonomi yang akurat dan terbaru, termasuk tingkat inflasi, untuk membantu pengguna membuat keputusan yang berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum di suatu perekonomian dalam periode waktu tertentu. Perubahan dalam tingkat inflasi mencerminkan perubahan daya beli mata uang, dan oleh karena itu, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang stabil dan rendah dianggap ideal bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena memberikan kepastian harga kepada konsumen dan bisnis. Namun, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Pada dasarnya, inflasi disebabkan oleh dua faktor utama: permintaan yang berlebihan dan biaya produksi yang meningkat. Ketika permintaan agregat dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi, harga-harga cenderung naik, yang dikenal sebagai inflasi permintaan. Sebaliknya, inflasi biaya terjadi ketika biaya produksi, seperti bahan baku atau upah pekerja, meningkat, dan produsen meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. Pengukuran inflasi biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks harga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai alat utama untuk mengukur tingkat inflasi. IHK mengukur perubahan harga dari sekelompok barang dan jasa yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu, ada juga Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengukur perubahan harga dari sisi produsen, dan meskipun kurang dikenal, indeks ini juga memberikan wawasan penting tentang tekanan inflasi dari sisi penawaran. Dalam analisis makroekonomi, inflasi sering kali dipandang dari dua perspektif utama: inflasi headline dan inflasi inti. Inflasi headline mencakup semua komponen dalam keranjang barang dan jasa, termasuk makanan dan energi yang harganya cenderung sangat fluktuatif. Sementara itu, inflasi inti mengecualikan makanan dan energi, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang inflasi yang mendasarinya. Bank sentral, seperti Bank Indonesia (BI), memainkan peran penting dalam mengelola inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu alat utama yang digunakan adalah suku bunga acuan. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengurangi permintaan agregat dengan membuat pinjaman lebih mahal dan tabungan lebih menarik, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung mendorong konsumsi dan investasi, yang dapat meningkatkan inflasi jika perekonomian beroperasi di dekat kapasitas penuh. Selain suku bunga, kebijakan fiskal yang diimplementasikan oleh pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi. Misalnya, peningkatan belanja pemerintah atau pengurangan pajak dapat meningkatkan permintaan agregat, yang dapat menyebabkan inflasi jika kapasitas produksi tidak dapat segera menyesuaikan. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga inflasi dalam batas yang diinginkan. Efek inflasi terhadap perekonomian sangat luas dan kompleks. Untuk konsumen, inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli, yang berarti mereka dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Ini terutama bermasalah bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan. Bagi bisnis, inflasi dapat menimbulkan ketidakpastian biaya dan menyulitkan perencanaan investasi jangka panjang. Di sisi lain, dalam ekonomi yang melambat, inflasi yang moderat bisa membantu menggerakkan konsumsi dan investasi. Di tingkat global, inflasi di satu negara dapat memiliki dampak signifikan pada perdagangan internasional dan nilai tukar. Misalnya, inflasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan mitra dagang utama dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang dapat membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama membuat impor lebih mahal, yang bisa memicu inflasi lebih lanjut. Memahami faktor yang mempengaruhi inflasi dan metode untuk mengontrolnya adalah penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Di eulerpool, kami menyediakan analisis data inflasi yang mendalam, termasuk tren historis dan proyeksi masa depan, untuk membantu semua pihak mengambil keputusan yang lebih baik. Data yang kami tampilkan berasal dari sumber-sumber resmi dan terpercaya, sehingga pengguna dapat memiliki keyakinan bahwa informasi yang mereka terima akurat dan up-to-date. Untuk mempermudah pengguna, kami juga menyediakan visualisasi data yang intuitif, memungkinkan pengguna untuk melihat perubahan dalam tingkat inflasi secara langsung dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam melalui grafik dan tabel yang informatif. Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membandingkan tingkat inflasi antar periode waktu atau antara berbagai negara. Pada akhirnya, memahami inflasi dan dampaknya adalah kunci untuk mengelola tantangan ekonomi secara efektif. Di eulerpool, kami bangga menjadi sumber utama untuk data inflasi dan alat analisis makroekonomi lainnya, berkontribusi pada peningkatan literasi ekonomi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh Indonesia. Dengan pelayanan dan data yang disediakan, kami berharap dapat membantu pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik untuk masa depan.
Tingkat Inflasi Jerman — FAQ
What is the current Tingkat Inflasi in Jerman?
The current Tingkat Inflasi in Jerman is 2,3% as of 1/6/2026.
How has the Tingkat Inflasi in Jerman changed recently?
The Tingkat Inflasi in Jerman decreased from 2,6% (1/5/2026) to 2,3% (1/6/2026).
What is the all-time high for Tingkat Inflasi in Jerman?
The all-time high for Tingkat Inflasi in Jerman was 11,70%, recorded on 1/10/1951.
What is the all-time low for Tingkat Inflasi in Jerman?
The all-time low for Tingkat Inflasi in Jerman was -7,62%, recorded on 1/6/1950.
What is the historical average of Tingkat Inflasi in Jerman?
The historical average of Tingkat Inflasi in Jerman is 2,49%, calculated over the period from 1/1/1950 to 1/6/2026.
Where does the Tingkat Inflasi data for Jerman come from?
The Tingkat Inflasi data for Jerman is sourced from Federal Statistical Office and published on Eulerpool.
Alat dan analisis lainnya
Alat gratis dan data pasar dari Eulerpool.
Penyaring Saham
Saring 20.000+ saham di seluruh dunia dengan 1.000.000+ metrik data.
Pelacak Insiden
Lacak pembelian dan penjualan insider secara real-time.
Superinvestor
Lacak portfolio investor terbesar dunia
Kalender Dividen
Rencanakan pendapatan pasif Anda dengan tanggal pembayaran dividen.
Kalender Hasil Kuartalan
Semua hasil kuartalan sekilas.
Kalender Ekonomi
Peristiwa ekonomi dan rilis data dari 200+ negara.
Pelacak Kongres
Pengungkapan STOCK Act dari anggota Kongres AS
Fear & Greed Index
Market Sentiment Indicator
Indeks Crypto Fear & Greed
Indikator Sentimen Pasar Crypto
Ide
Daftar saham yang dikurasi menurut strategi, indeks, dan negara.
Sektor
Saham teratas diurutkan menurut industri dan sektor.
Negara-negara
Pasar saham dan perusahaan terkemuka menurut negara.
Strategi
Strategi investasi terbukti dengan return historis.
Indeks
Kinerja dan komposisi indeks saham utama.
Glosarium
Kamus pasar saham komprehensif untuk istilah keuangan dan saham
Blog
Berita, kemitraan, dan pengumuman produk