Tingkat Inflasi Swedia
Nilai Tingkat Inflasi terbaru untuk Swedia
Harga
1,1 %
Perubahan +/-
+0,8 %
Rata-rata
3,46 %
Tertinggi sepanjang masa
15,50 %
1/10/1980
Terendah sepanjang masa
-1,90 %
1/9/2009
Nilai saat ini dari Tingkat Inflasi di Swedia adalah 1,1 %. Tingkat Inflasi di Swedia meningkat menjadi 1,1 % pada 1/9/2026, setelah sebelumnya sebesar 0,3 % pada 1/8/2026. Dari 1/1/1980 hingga 1/9/2026, rata-rata PDB di Swedia adalah 3,46 %. Rekor tertinggi sepanjang masa dicapai pada 1/10/1980 dengan 15,50 %, sementara nilai terendah tercatat pada 1/9/2009 dengan -1,90 %.
Tingkat Inflasi di Swedia naik pada 1/9/2026 dari 0,3 % pada 1/8/2026 menjadi 1,1 %. Tingkat Inflasi di Swedia rata-rata 3,46 % dari 1/1/1980 hingga 1/9/2026, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa 15,50 % pada 1/10/1980, dan rekor terendah -1,90 % pada 1/9/2009.
Tingkat Inflasi
Tingkat Inflasi
3 tahun
5 tahun
10 tahun
25 Tahun
Maks
Tingkat Inflasi Riwayat
| Tanggal | Nilai |
|---|---|
| 1,1 % | |
| 0,3 % | |
| 0,2 % | |
| 0,7 % | |
| 0,8 % | |
| 0,5 % | |
| 0,5 % | |
| 0,5 % | |
| 0,3 % | |
| 0,3 % |
Indikator Makro Serupa dengan Tingkat Inflasi
CPI dengan Suku Bunga Tetap YoY
Bulanan
CPI dengan tingkat bunga tetap MoM
Bulanan
Ekspektasi inflasi
Bulanan
Harga Ekspor
Bulanan
Harga Impor
Bulanan
Harga Konsumen yang Diharmonisasi
Bulanan
Harga Produsen
Bulanan
IHK Transportasi
Bulanan
Indeks Harga Konsumen (IHK)
Bulanan
Indeks Harga Konsumen dengan Tingkat Bunga Tetap
Bulanan
Indeks Harga Konsumen Inti
Bulanan
Indeks Harga Konsumen untuk Perumahan dan Utilitas
Bulanan
Inflasi Harga Produsen Bulan ke Bulan
Bulanan
Inflasi Pangan
Bulanan
Perubahan Harga Produsen
Bulanan
Tingkat Inflasi Harmonis YoY
Bulanan
Tingkat inflasi inti
Bulanan
Tingkat Inflasi Inti MoM
Bulanan
Tingkat Inflasi MoM
Bulanan
Tingkat Inflasi yang Diharmonisasi MoM (Bulan-ke-Bulan)
Bulanan
Tingkat Inflasi
Di Swedia, kategori yang paling penting dalam Indeks Harga Konsumen adalah Perumahan & Utilitas (24% dari total bobot). Makanan & Minuman Non-alkohol menyumbang 14%; Transportasi sebesar 13%; Rekreasi & Budaya sebesar 13%; Barang & Jasa Lain-lain sebesar 8%; serta Furnitur, Barang Rumah Tangga & Pemeliharaan (7%). Kategori lainnya termasuk: Restoran & Hotel (6%), Pakaian & Alas Kaki (4%), Minuman Alkohol & Tembakau (4%), Kesehatan (4%), Komunikasi (3%), dan Pendidikan (0,30%).
Halaman makro untuk negara lain di Eropa
Apa itu Tingkat Inflasi?
Inflasi adalah salah satu indikator makroekonomi yang paling krusial dalam memahami kesehatan ekonomi suatu negara. Di situs kami, eulerpool, kami berkomitmen untuk menyediakan data ekonomi yang akurat dan terbaru, termasuk tingkat inflasi, untuk membantu pengguna membuat keputusan yang berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum di suatu perekonomian dalam periode waktu tertentu. Perubahan dalam tingkat inflasi mencerminkan perubahan daya beli mata uang, dan oleh karena itu, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang stabil dan rendah dianggap ideal bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena memberikan kepastian harga kepada konsumen dan bisnis. Namun, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Pada dasarnya, inflasi disebabkan oleh dua faktor utama: permintaan yang berlebihan dan biaya produksi yang meningkat. Ketika permintaan agregat dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi, harga-harga cenderung naik, yang dikenal sebagai inflasi permintaan. Sebaliknya, inflasi biaya terjadi ketika biaya produksi, seperti bahan baku atau upah pekerja, meningkat, dan produsen meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. Pengukuran inflasi biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks harga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai alat utama untuk mengukur tingkat inflasi. IHK mengukur perubahan harga dari sekelompok barang dan jasa yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu, ada juga Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengukur perubahan harga dari sisi produsen, dan meskipun kurang dikenal, indeks ini juga memberikan wawasan penting tentang tekanan inflasi dari sisi penawaran. Dalam analisis makroekonomi, inflasi sering kali dipandang dari dua perspektif utama: inflasi headline dan inflasi inti. Inflasi headline mencakup semua komponen dalam keranjang barang dan jasa, termasuk makanan dan energi yang harganya cenderung sangat fluktuatif. Sementara itu, inflasi inti mengecualikan makanan dan energi, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang inflasi yang mendasarinya. Bank sentral, seperti Bank Indonesia (BI), memainkan peran penting dalam mengelola inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu alat utama yang digunakan adalah suku bunga acuan. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengurangi permintaan agregat dengan membuat pinjaman lebih mahal dan tabungan lebih menarik, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung mendorong konsumsi dan investasi, yang dapat meningkatkan inflasi jika perekonomian beroperasi di dekat kapasitas penuh. Selain suku bunga, kebijakan fiskal yang diimplementasikan oleh pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi. Misalnya, peningkatan belanja pemerintah atau pengurangan pajak dapat meningkatkan permintaan agregat, yang dapat menyebabkan inflasi jika kapasitas produksi tidak dapat segera menyesuaikan. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga inflasi dalam batas yang diinginkan. Efek inflasi terhadap perekonomian sangat luas dan kompleks. Untuk konsumen, inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli, yang berarti mereka dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Ini terutama bermasalah bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan. Bagi bisnis, inflasi dapat menimbulkan ketidakpastian biaya dan menyulitkan perencanaan investasi jangka panjang. Di sisi lain, dalam ekonomi yang melambat, inflasi yang moderat bisa membantu menggerakkan konsumsi dan investasi. Di tingkat global, inflasi di satu negara dapat memiliki dampak signifikan pada perdagangan internasional dan nilai tukar. Misalnya, inflasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan mitra dagang utama dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang dapat membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama membuat impor lebih mahal, yang bisa memicu inflasi lebih lanjut. Memahami faktor yang mempengaruhi inflasi dan metode untuk mengontrolnya adalah penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Di eulerpool, kami menyediakan analisis data inflasi yang mendalam, termasuk tren historis dan proyeksi masa depan, untuk membantu semua pihak mengambil keputusan yang lebih baik. Data yang kami tampilkan berasal dari sumber-sumber resmi dan terpercaya, sehingga pengguna dapat memiliki keyakinan bahwa informasi yang mereka terima akurat dan up-to-date. Untuk mempermudah pengguna, kami juga menyediakan visualisasi data yang intuitif, memungkinkan pengguna untuk melihat perubahan dalam tingkat inflasi secara langsung dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam melalui grafik dan tabel yang informatif. Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membandingkan tingkat inflasi antar periode waktu atau antara berbagai negara. Pada akhirnya, memahami inflasi dan dampaknya adalah kunci untuk mengelola tantangan ekonomi secara efektif. Di eulerpool, kami bangga menjadi sumber utama untuk data inflasi dan alat analisis makroekonomi lainnya, berkontribusi pada peningkatan literasi ekonomi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh Indonesia. Dengan pelayanan dan data yang disediakan, kami berharap dapat membantu pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik untuk masa depan.
Tingkat Inflasi Swedia — FAQ
Berapa Tingkat Inflasi saat ini di Swedia?
Tingkat Inflasi saat ini di Swedia adalah 1,1 % per 1/9/2026.
Bagaimana perubahan Tingkat Inflasi di Swedia belakangan ini?
Tingkat Inflasi di Swedia naik dari 0,3 % (1/8/2026) menjadi 1,1 % (1/9/2026).
Berapa rekor tertinggi Tingkat Inflasi di Swedia?
Rekor tertinggi Tingkat Inflasi di Swedia adalah 15,50 %, tercatat pada 1/10/1980.
Berapa rekor terendah Tingkat Inflasi di Swedia?
Rekor terendah Tingkat Inflasi di Swedia adalah -1,90 %, tercatat pada 1/9/2009.
Berapa rata-rata historis Tingkat Inflasi di Swedia?
Rata-rata historis Tingkat Inflasi di Swedia adalah 3,46 %, dihitung dari 1/1/1980 hingga 1/9/2026.
Dari mana data Tingkat Inflasi untuk Swedia berasal?
Data Tingkat Inflasi untuk Swedia bersumber dari Statistics Sweden dan dipublikasikan di Eulerpool.
Alat dan analisis lainnya
Alat gratis dan data pasar dari Eulerpool.
Penyaring Saham
Saring 20.000+ saham di seluruh dunia dengan 1.000.000+ metrik data.
Pelacak Insiden
Lacak pembelian dan penjualan insider secara real-time.
Superinvestor
Lacak portfolio investor terbesar dunia
Kalender Dividen
Rencanakan pendapatan pasif Anda dengan tanggal pembayaran dividen.
Kalender Hasil Kuartalan
Tanggal dan waktu laporan kuartalan dalam satu pandangan.
Kalender Ekonomi
Peristiwa ekonomi dan rilis data dari 200+ negara.
Pelacak Kongres
Pengungkapan STOCK Act dari anggota Kongres AS
Fear & Greed Index
Indikator sentimen pasar
Indeks Crypto Fear & Greed
Indikator Sentimen Pasar Crypto
Ide
Daftar saham yang dikurasi menurut strategi, indeks, dan negara.
Sektor
Saham teratas diurutkan menurut industri dan sektor.
Negara-negara
Pasar saham dan perusahaan terkemuka menurut negara.
Strategi
Strategi investasi terbukti dengan return historis.
Indeks
Kinerja dan komposisi indeks saham utama.
ETFs
9.000+ ETF menurut penyedia, kelas aset, dan indeks.
Kripto
Harga live dan kapitalisasi pasar koin utama.
Komoditas
Gold, oil, gas, metals, agriculture and electricity prices.
Valas
Kurs live untuk pasangan mata uang utama.
Glosarium
Kamus pasar saham komprehensif untuk istilah keuangan dan saham
Blog
Berita, kemitraan, dan pengumuman produk