🇧🇹

Bhutan Impor

Harga

Harga
45,51 miliar BTN
Perubahan +/-
+9,557 miliar BTN
Perubahan Persentase
+26,58 %

Nilai saat ini dari Impor di Bhutan adalah 45,51 miliar BTN. Impor di Bhutan meningkat menjadi 45,51 miliar BTN pada 1/9/2025, setelah sebelumnya adalah 35,954 miliar BTN pada 1/6/2025. Dari 1/12/1991 hingga 1/9/2025, rata-rata PDB di Bhutan adalah 17,48 miliar BTN. Puncak tertinggi tercapai pada 1/9/2025 dengan 45,51 miliar BTN, sedangkan nilai terendah tercatat pada 1/12/1991 dengan 1,25 miliar BTN.

Sumber: Royal Monetary Authority of Bhutan

macro_seo_summary_intro macro_seo_summary_upmacro_seo_summary_avgmacro_seo_summary_highmacro_seo_summary_low

Impor

Impor

  • 3 tahun

  • 5 tahun

  • 10 tahun

  • 25 Tahun

  • Maks

Impor
Date
Impor
12 Jan 1991
1,25 miliar BTN
12 Jan 1992
1,81 miliar BTN
12 Jan 1993
2,09 miliar BTN
12 Jan 1994
2,91 miliar BTN
12 Jan 1995
3,05 miliar BTN
12 Jan 1996
3,8 miliar BTN
12 Jan 1997
4,7 miliar BTN
12 Jan 1998
5,23 miliar BTN
12 Jan 1999
6,91 miliar BTN
12 Jan 2000
8,08 miliar BTN
12 Jan 2001
7,88 miliar BTN
12 Jan 2002
8,99 miliar BTN
12 Jan 2003
9,09 miliar BTN
12 Jan 2004
11,12 miliar BTN
12 Jan 2005
20,56 miliar BTN
Access this data via the Eulerpool API

Impor Riwayat

Impor — Riwayat
TanggalNilai
45,51 miliar BTN
35,954 miliar BTN
39,26 miliar BTN
34,157 miliar BTN
27,319 miliar BTN
27,724 miliar BTN
28,818 miliar BTN
24,541 miliar BTN
25,673 miliar BTN
26,818 miliar BTN
...

Impor

Bhutan terutama mengimpor minyak dan bahan bakar, logam dasar, mesin dan peralatan listrik, kendaraan, kayu, dan makanan. Mitra impor utama Bhutan adalah India, yang menyumbang sekitar 80 persen dari total impor. Mitra impor lainnya termasuk Korea Selatan, Thailand, Singapura, Jepang, Tiongkok, dan Nepal.

Halaman makro untuk negara lain di Asia

Apa itu Impor?

Eulerpool adalah situs web profesional yang menyediakan data makroekonomi yang komprehensif, termasuk dalam kategori "Impor." Dalam artikel ini, kami akan membahas secara mendalam tentang impor di Indonesia, dengan informasi yang relevan, tren, dan signifikansi makroekonominya, serta relevansinya bagi pengguna data ekonomi. Impor merujuk pada kegiatan membeli barang dan jasa dari luar negeri untuk digunakan di dalam negeri. Di Indonesia, impor memegang peranan penting dalam perekonomian nasional karena berbagai alasan. Pertama, impor memungkinkan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan barang yang tidak dapat diproduksi secara efisien atau tidak tersedia di dalam negeri. Kedua, impor dapat membantu menstabilkan harga di pasar domestik dengan menyediakan alternatif yang lebih murah atau berkualitas lebih baik. Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbuka yang sangat bergantung pada perdagangan internasional. Oleh karena itu, memahami dinamika impor menjadi sangat penting. Data impor mencakup berbagai jenis barang mulai dari bahan baku industri, barang konsumsi, hingga barang modal seperti mesin dan peralatan. Bahan baku industri seperti minyak mentah, bahan kimia, dan bijih logam sangat penting bagi sektor manufaktur Indonesia. Barang konsumsi seperti elektronik, kendaraan, dan produk pangan juga memainkan peran signifikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, barang modal berperan dalam meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi industri. Tren impor Indonesia sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan perdagangan, kondisi ekonomi global, nilai tukar, serta pertumbuhan ekonomi domestik. Misalnya, ketika perekonomian global mengalami resesi, nilai impor Indonesia mungkin menurun karena berkurangnya permintaan global. Sebaliknya, dalam periode pertumbuhan ekonomi yang kuat, impor cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan barang modal dan barang konsumsi di dalam negeri. Kebijakan perdagangan juga memainkan peran yang tidak kalah penting. Pemerintah Indonesia sering memberlakukan tarif dan non-tarif untuk melindungi industri dalam negeri. Namun, kebijakan ini harus diimbangi dengan kebutuhan untuk mengimpor barang-barang yang tidak dapat diproduksi secara efisien di dalam negeri. Langkah-langkah seperti perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan organisasi perdagangan internasional (WTO) juga berdampak pada volume dan nilai impor Indonesia. Kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat, sangat mempengaruhi biaya impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor meningkat karena harga barang-barang yang diimpor dalam mata uang asing menjadi lebih mahal. Sebaliknya, ketika nilai tukar rupiah menguat, biaya impor menurun, yang dapat menguntungkan konsumen dan produsen di Indonesia. Data makroekonomi terkait impor juga dapat memberikan wawasan tentang kesehatan ekonomi Indonesia. Misalnya, peningkatan impor barang modal umumnya menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan melakukan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka, yang merupakan indikator positif bagi perekonomian. Sebaliknya, peningkatan impor barang konsumsi bisa menunjukkan meningkatnya daya beli masyarakat. Namun, peningkatan impor juga dapat menyebabkan defisit neraca perdagangan jika nilai impor melebihi nilai ekspor. Mengapa data impor sangat penting bagi pengguna data ekonomi seperti pengusaha, investor, dan pembuat kebijakan? Bagi pengusaha, data impor memberikan gambaran tentang kondisi pasar dan persaingan. Misalnya, sektor manufaktur dapat memanfaatkan data impor bahan baku untuk merencanakan produksi dan mengelola biaya. Bagi investor, data impor dapat membantu dalam analisis kelayakan investasi dan proyeksi pertumbuhan industri. Sementara itu, pembuat kebijakan dapat mengandalkan data impor untuk merumuskan kebijakan perdagangan dan industri yang efektif. Di Eulerpool, kami menyediakan data impor yang terperinci dan dapat diakses dengan mudah. Pengguna dapat memanfaatkan data ini untuk melakukan analisis yang mendalam dan membuat keputusan yang lebih informed. Data yang kami sediakan mencakup berbagai kategori barang, negara asal impor, serta tren dan perubahan harga dari waktu ke waktu. Dengan demikian, pengguna dapat memiliki pemahaman yang komprehensif tentang dinamika impor di Indonesia. Selain itu, kami juga menyediakan alat analisis yang canggih untuk memudahkan pengguna dalam memvisualisasikan data impor. Pengguna dapat membuat grafik, tabel, dan laporan yang dapat disesuaikan sesuai kebutuhan masing-masing. Fitur ini sangat berguna bagi pengusaha, investor, dan peneliti yang membutuhkan data rinci dan analisis mendalam untuk mendukung keputusan mereka. Secara keseluruhan, kategori impor di Eulerpool memainkan peran vital dalam memberikan wawasan yang relevan dan data yang akurat untuk mendukung berbagai kepentingan ekonomi. Dengan memahami dinamika impor, pengguna data ekonomi dapat mengantisipasi perubahan pasar, merencanakan strategi bisnis, dan membuat keputusan yang lebih baik. Di tengah dinamika perekonomian global yang terus berubah, data impor yang akurat dan terbaru menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Eulerpool berkomitmen untuk terus menyediakan data impor yang berkualitas tinggi dan mudah diakses bagi semua penggunanya. Melalui analisis yang mendalam dan fitur yang canggih, kami berharap dapat membantu pengguna dalam memahami dan mengatasi kompleksitas perekonomian global, serta mencapai tujuan ekonomi dan bisnis mereka.

Impor Bhutan — FAQ

What is the current Impor in Bhutan?

The current Impor in Bhutan is 45,51 miliarBTN as of 1/9/2025.

How has the Impor in Bhutan changed recently?

The Impor in Bhutan increased from 35,954 miliarBTN (1/6/2025) to 45,51 miliarBTN (1/9/2025).

What is the all-time high for Impor in Bhutan?

The all-time high for Impor in Bhutan was 45,51 miliarBTN, recorded on 1/9/2025.

What is the all-time low for Impor in Bhutan?

The all-time low for Impor in Bhutan was 1,25 miliarBTN, recorded on 1/12/1991.

What is the historical average of Impor in Bhutan?

The historical average of Impor in Bhutan is 17,48 miliarBTN, calculated over the period from 1/12/1991 to 1/9/2025.

Where does the Impor data for Bhutan come from?

The Impor data for Bhutan is sourced from Royal Monetary Authority of Bhutan and published on Eulerpool.