Bolivia Tingkat Inflasi

Harga

Harga

9,23 %

Perubahan +/-

-3,28 %

Perubahan Persentase

-26,22 %

Nilai saat ini dari Tingkat Inflasi di Bolivia adalah 9,23 %. Tingkat Inflasi di Bolivia menurun menjadi 9,23 % pada 1/6/2026, setelah sebelumnya 12,51 % pada 1/5/2026. Dari 1/1/1968 hingga 1/6/2026, rata-rata PDB di Bolivia adalah 242,72 %. Rekor tertinggi sepanjang masa dicapai pada 1/9/1985 dengan 23.464,36 %, sementara nilai terendah tercatat pada 1/10/2001 dengan -1,27 %.

Sumber: Instituto Nacional de Estadística de Bolivia

The current value of Tingkat Inflasi in Bolivia is 9,23%. Tingkat Inflasi in Bolivia decreased to 9,23% from 12,51%.Tingkat Inflasi in Bolivia averaged 242,72% from 1/1/1968 until 1/6/2026.The all-time high was 23.464,36% (1/9/1985)and the record low was -1,27% (1/10/2001).

Tingkat Inflasi

Tingkat Inflasi

  • 3 tahun

  • 5 tahun

  • 10 tahun

  • 25 Tahun

  • Maks

Tingkat inflasi
Date
Tingkat inflasi
11 Jan 2025
20,96 %
12 Jan 2025
20,40 %
1 Jan 2026
19,64 %
2 Jan 2026
17,41 %
3 Jan 2026
15,05 %
4 Jan 2026
14,18 %
5 Jan 2026
12,51 %
6 Jan 2026
9,23 %
Access this data via the Eulerpool API

Tingkat Inflasi Riwayat

Tingkat Inflasi — Riwayat
TanggalNilai
9,23 %
12,51 %
14,18 %
15,05 %
17,41 %
19,64 %
20,4 %
20,96 %
22,23 %
23,32 %
...

Tingkat Inflasi

Di Bolivia, komponen utama indeks harga konsumen adalah: Makanan dan Minuman Non-Alkohol (27,4 persen dari total berat); Transportasi (12,5 persen); Perumahan dan Layanan Dasar (11,1 persen) dan Restoran dan Hotel (11,07 persen). Barang dan Layanan Lain menyumbang 7,1 persen; Perabot, Barang dan Layanan Rumah Tangga sebesar 6,7 persen; Rekreasi dan Kebudayaan sebesar 6,3 persen dan Pakaian dan Alas Kaki sebesar 6,3 persen. Lainnya termasuk: Pendidikan (4,7 persen); Komunikasi (3,5 persen); Perawatan Kesehatan (2,5 persen) dan Minuman Beralkohol serta Tembakau (0,9 persen). Indeks nasional memiliki basis 100 pada tahun 2007. IHK mencerminkan harga dan pola pengeluaran yang terdaftar di ibu kota dari sembilan wilayah di negara tersebut, ditambah kota El Alto.

Apa itu Tingkat Inflasi?

Inflasi adalah salah satu indikator makroekonomi yang paling krusial dalam memahami kesehatan ekonomi suatu negara. Di situs kami, eulerpool, kami berkomitmen untuk menyediakan data ekonomi yang akurat dan terbaru, termasuk tingkat inflasi, untuk membantu pengguna membuat keputusan yang berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum di suatu perekonomian dalam periode waktu tertentu. Perubahan dalam tingkat inflasi mencerminkan perubahan daya beli mata uang, dan oleh karena itu, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang stabil dan rendah dianggap ideal bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena memberikan kepastian harga kepada konsumen dan bisnis. Namun, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Pada dasarnya, inflasi disebabkan oleh dua faktor utama: permintaan yang berlebihan dan biaya produksi yang meningkat. Ketika permintaan agregat dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi, harga-harga cenderung naik, yang dikenal sebagai inflasi permintaan. Sebaliknya, inflasi biaya terjadi ketika biaya produksi, seperti bahan baku atau upah pekerja, meningkat, dan produsen meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. Pengukuran inflasi biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks harga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai alat utama untuk mengukur tingkat inflasi. IHK mengukur perubahan harga dari sekelompok barang dan jasa yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu, ada juga Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengukur perubahan harga dari sisi produsen, dan meskipun kurang dikenal, indeks ini juga memberikan wawasan penting tentang tekanan inflasi dari sisi penawaran. Dalam analisis makroekonomi, inflasi sering kali dipandang dari dua perspektif utama: inflasi headline dan inflasi inti. Inflasi headline mencakup semua komponen dalam keranjang barang dan jasa, termasuk makanan dan energi yang harganya cenderung sangat fluktuatif. Sementara itu, inflasi inti mengecualikan makanan dan energi, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang inflasi yang mendasarinya. Bank sentral, seperti Bank Indonesia (BI), memainkan peran penting dalam mengelola inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu alat utama yang digunakan adalah suku bunga acuan. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengurangi permintaan agregat dengan membuat pinjaman lebih mahal dan tabungan lebih menarik, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung mendorong konsumsi dan investasi, yang dapat meningkatkan inflasi jika perekonomian beroperasi di dekat kapasitas penuh. Selain suku bunga, kebijakan fiskal yang diimplementasikan oleh pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi. Misalnya, peningkatan belanja pemerintah atau pengurangan pajak dapat meningkatkan permintaan agregat, yang dapat menyebabkan inflasi jika kapasitas produksi tidak dapat segera menyesuaikan. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga inflasi dalam batas yang diinginkan. Efek inflasi terhadap perekonomian sangat luas dan kompleks. Untuk konsumen, inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli, yang berarti mereka dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Ini terutama bermasalah bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan. Bagi bisnis, inflasi dapat menimbulkan ketidakpastian biaya dan menyulitkan perencanaan investasi jangka panjang. Di sisi lain, dalam ekonomi yang melambat, inflasi yang moderat bisa membantu menggerakkan konsumsi dan investasi. Di tingkat global, inflasi di satu negara dapat memiliki dampak signifikan pada perdagangan internasional dan nilai tukar. Misalnya, inflasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan mitra dagang utama dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang dapat membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama membuat impor lebih mahal, yang bisa memicu inflasi lebih lanjut. Memahami faktor yang mempengaruhi inflasi dan metode untuk mengontrolnya adalah penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Di eulerpool, kami menyediakan analisis data inflasi yang mendalam, termasuk tren historis dan proyeksi masa depan, untuk membantu semua pihak mengambil keputusan yang lebih baik. Data yang kami tampilkan berasal dari sumber-sumber resmi dan terpercaya, sehingga pengguna dapat memiliki keyakinan bahwa informasi yang mereka terima akurat dan up-to-date. Untuk mempermudah pengguna, kami juga menyediakan visualisasi data yang intuitif, memungkinkan pengguna untuk melihat perubahan dalam tingkat inflasi secara langsung dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam melalui grafik dan tabel yang informatif. Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membandingkan tingkat inflasi antar periode waktu atau antara berbagai negara. Pada akhirnya, memahami inflasi dan dampaknya adalah kunci untuk mengelola tantangan ekonomi secara efektif. Di eulerpool, kami bangga menjadi sumber utama untuk data inflasi dan alat analisis makroekonomi lainnya, berkontribusi pada peningkatan literasi ekonomi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh Indonesia. Dengan pelayanan dan data yang disediakan, kami berharap dapat membantu pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik untuk masa depan.

Tingkat Inflasi Bolivia — FAQ

What is the current Tingkat Inflasi in Bolivia?

The current Tingkat Inflasi in Bolivia is 9,23% as of 1/6/2026.

How has the Tingkat Inflasi in Bolivia changed recently?

The Tingkat Inflasi in Bolivia decreased from 12,51% (1/5/2026) to 9,23% (1/6/2026).

What is the all-time high for Tingkat Inflasi in Bolivia?

The all-time high for Tingkat Inflasi in Bolivia was 23.464,36%, recorded on 1/9/1985.

What is the all-time low for Tingkat Inflasi in Bolivia?

The all-time low for Tingkat Inflasi in Bolivia was -1,27%, recorded on 1/10/2001.

What is the historical average of Tingkat Inflasi in Bolivia?

The historical average of Tingkat Inflasi in Bolivia is 242,72%, calculated over the period from 1/1/1968 to 1/6/2026.

Where does the Tingkat Inflasi data for Bolivia come from?

The Tingkat Inflasi data for Bolivia is sourced from Instituto Nacional de Estadística de Bolivia and published on Eulerpool.

Alat dan analisis lainnya

Alat gratis dan data pasar dari Eulerpool.