Uganda Tingkat Inflasi

Harga

Harga

4 %

Perubahan +/-

+0,3 %

Perubahan Persentase

+8,11 %

Nilai saat ini dari Tingkat Inflasi di Uganda adalah 4 %. Tingkat Inflasi di Uganda meningkat menjadi 4 % pada 1/7/2026, setelah sebelumnya sebesar 3,7 % pada 1/6/2026. Dari 1/7/1998 hingga 1/7/2026, rata-rata PDB di Uganda adalah 5,64 %. Rekor tertinggi sepanjang masa dicapai pada 1/11/2011 dengan 24,40 %, sementara nilai terendah tercatat pada 1/11/2001 dengan -5,36 %.

Sumber: Uganda Bureau of Statistics

The current value of Tingkat Inflasi in Uganda is 4%. Tingkat Inflasi in Uganda increased to 4% from 3,7%.Tingkat Inflasi in Uganda averaged 5,64% from 1/7/1998 until 1/7/2026.The all-time high was 24,40% (1/11/2011)and the record low was -5,36% (1/11/2001).

Tingkat Inflasi

Tingkat Inflasi

  • 3 tahun

  • 5 tahun

  • 10 tahun

  • 25 Tahun

  • Maks

Tingkat inflasi
Date
Tingkat inflasi
12 Jan 2025
3,10 %
1 Jan 2026
3,20 %
2 Jan 2026
2,90 %
3 Jan 2026
2,80 %
4 Jan 2026
3,00 %
5 Jan 2026
3,20 %
6 Jan 2026
3,70 %
7 Jan 2026
4,00 %
Access this data via the Eulerpool API

Tingkat Inflasi Riwayat

Tingkat Inflasi — Riwayat
TanggalNilai
4 %
3,7 %
3,2 %
3 %
2,8 %
2,9 %
3,2 %
3,1 %
3,1 %
3,4 %
...

Tingkat Inflasi

Di Uganda, komponen utama Indeks Harga Konsumen adalah: Makanan dan Minuman Non-Alkohol (27%), Transportasi (10%), dan Perumahan (10%). Restoran & Hotel menyumbang 9%, Pakaian & Alas Kaki 7%, dan Pendidikan 6%. Indeks ini juga mencakup: Barang & Jasa Lainnya (5%), Rekreasi & Budaya (5%), Perabotan & Barang Rumah Tangga (5%), Komunikasi (4%), Minuman Beralkohol, Tembakau, dan Narkotika (4%), serta Perawatan Medis (2%).

Apa itu Tingkat Inflasi?

Inflasi adalah salah satu indikator makroekonomi yang paling krusial dalam memahami kesehatan ekonomi suatu negara. Di situs kami, eulerpool, kami berkomitmen untuk menyediakan data ekonomi yang akurat dan terbaru, termasuk tingkat inflasi, untuk membantu pengguna membuat keputusan yang berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum di suatu perekonomian dalam periode waktu tertentu. Perubahan dalam tingkat inflasi mencerminkan perubahan daya beli mata uang, dan oleh karena itu, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang stabil dan rendah dianggap ideal bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena memberikan kepastian harga kepada konsumen dan bisnis. Namun, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Pada dasarnya, inflasi disebabkan oleh dua faktor utama: permintaan yang berlebihan dan biaya produksi yang meningkat. Ketika permintaan agregat dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi, harga-harga cenderung naik, yang dikenal sebagai inflasi permintaan. Sebaliknya, inflasi biaya terjadi ketika biaya produksi, seperti bahan baku atau upah pekerja, meningkat, dan produsen meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. Pengukuran inflasi biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks harga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai alat utama untuk mengukur tingkat inflasi. IHK mengukur perubahan harga dari sekelompok barang dan jasa yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu, ada juga Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengukur perubahan harga dari sisi produsen, dan meskipun kurang dikenal, indeks ini juga memberikan wawasan penting tentang tekanan inflasi dari sisi penawaran. Dalam analisis makroekonomi, inflasi sering kali dipandang dari dua perspektif utama: inflasi headline dan inflasi inti. Inflasi headline mencakup semua komponen dalam keranjang barang dan jasa, termasuk makanan dan energi yang harganya cenderung sangat fluktuatif. Sementara itu, inflasi inti mengecualikan makanan dan energi, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang inflasi yang mendasarinya. Bank sentral, seperti Bank Indonesia (BI), memainkan peran penting dalam mengelola inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu alat utama yang digunakan adalah suku bunga acuan. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengurangi permintaan agregat dengan membuat pinjaman lebih mahal dan tabungan lebih menarik, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung mendorong konsumsi dan investasi, yang dapat meningkatkan inflasi jika perekonomian beroperasi di dekat kapasitas penuh. Selain suku bunga, kebijakan fiskal yang diimplementasikan oleh pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi. Misalnya, peningkatan belanja pemerintah atau pengurangan pajak dapat meningkatkan permintaan agregat, yang dapat menyebabkan inflasi jika kapasitas produksi tidak dapat segera menyesuaikan. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga inflasi dalam batas yang diinginkan. Efek inflasi terhadap perekonomian sangat luas dan kompleks. Untuk konsumen, inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli, yang berarti mereka dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Ini terutama bermasalah bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan. Bagi bisnis, inflasi dapat menimbulkan ketidakpastian biaya dan menyulitkan perencanaan investasi jangka panjang. Di sisi lain, dalam ekonomi yang melambat, inflasi yang moderat bisa membantu menggerakkan konsumsi dan investasi. Di tingkat global, inflasi di satu negara dapat memiliki dampak signifikan pada perdagangan internasional dan nilai tukar. Misalnya, inflasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan mitra dagang utama dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang dapat membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama membuat impor lebih mahal, yang bisa memicu inflasi lebih lanjut. Memahami faktor yang mempengaruhi inflasi dan metode untuk mengontrolnya adalah penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Di eulerpool, kami menyediakan analisis data inflasi yang mendalam, termasuk tren historis dan proyeksi masa depan, untuk membantu semua pihak mengambil keputusan yang lebih baik. Data yang kami tampilkan berasal dari sumber-sumber resmi dan terpercaya, sehingga pengguna dapat memiliki keyakinan bahwa informasi yang mereka terima akurat dan up-to-date. Untuk mempermudah pengguna, kami juga menyediakan visualisasi data yang intuitif, memungkinkan pengguna untuk melihat perubahan dalam tingkat inflasi secara langsung dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam melalui grafik dan tabel yang informatif. Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membandingkan tingkat inflasi antar periode waktu atau antara berbagai negara. Pada akhirnya, memahami inflasi dan dampaknya adalah kunci untuk mengelola tantangan ekonomi secara efektif. Di eulerpool, kami bangga menjadi sumber utama untuk data inflasi dan alat analisis makroekonomi lainnya, berkontribusi pada peningkatan literasi ekonomi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh Indonesia. Dengan pelayanan dan data yang disediakan, kami berharap dapat membantu pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik untuk masa depan.

Tingkat Inflasi Uganda — FAQ

What is the current Tingkat Inflasi in Uganda?

The current Tingkat Inflasi in Uganda is 4% as of 1/7/2026.

How has the Tingkat Inflasi in Uganda changed recently?

The Tingkat Inflasi in Uganda increased from 3,7% (1/6/2026) to 4% (1/7/2026).

What is the all-time high for Tingkat Inflasi in Uganda?

The all-time high for Tingkat Inflasi in Uganda was 24,40%, recorded on 1/11/2011.

What is the all-time low for Tingkat Inflasi in Uganda?

The all-time low for Tingkat Inflasi in Uganda was -5,36%, recorded on 1/11/2001.

What is the historical average of Tingkat Inflasi in Uganda?

The historical average of Tingkat Inflasi in Uganda is 5,64%, calculated over the period from 1/7/1998 to 1/7/2026.

Where does the Tingkat Inflasi data for Uganda come from?

The Tingkat Inflasi data for Uganda is sourced from Uganda Bureau of Statistics and published on Eulerpool.

Alat dan analisis lainnya

Alat gratis dan data pasar dari Eulerpool.