Namibia Tingkat Inflasi
Harga
Nilai saat ini dari Tingkat Inflasi di Namibia adalah 4,1 %. Tingkat Inflasi di Namibia meningkat menjadi 4,1 % pada 1/5/2026, setelah sebelumnya sebesar 3,1 % pada 1/4/2026. Dari 1/1/1973 hingga 1/5/2026, rata-rata PDB di Namibia adalah 8,71 %. Rekor tertinggi sepanjang masa dicapai pada 1/6/1992 dengan 20,54 %, sementara nilai terendah tercatat pada 1/5/2005 dengan 0,94 %.
macro_seo_summary_intro macro_seo_summary_upmacro_seo_summary_avgmacro_seo_summary_highmacro_seo_summary_low
Tingkat Inflasi
Tingkat Inflasi
3 tahun
5 tahun
10 tahun
25 Tahun
Maks
Tingkat Inflasi Riwayat
| Tanggal | Nilai |
|---|---|
| 4,1 % | |
| 3,1 % | |
| 2,1 % | |
| 2,4 % | |
| 2,9 % | |
| 3,2 % | |
| 3,4 % | |
| 3,6 % | |
| 3,5 % | |
| 3,2 % |
Indikator Makro Serupa dengan Tingkat Inflasi
Deflator PDB
Tahunan
Harga Ekspor
Tahunan
Harga Impor
Tahunan
IHK Transportasi
Bulanan
Indeks Harga Konsumen (IHK)
Bulanan
Indeks Harga Konsumen untuk Perumahan dan Utilitas
Bulanan
Inflasi Pangan
Bulanan
Tingkat Inflasi MoM
Bulanan
Tingkat Inflasi
Di Namibia, kategori terpenting dalam indeks harga konsumen adalah Perumahan dan Utilitas (28 persen dari total bobot). Makanan dan Minuman Non-Alkohol menyumbang 17 persen; Transportasi 14 persen; Minuman beralkohol dan Tembakau 13 persen; Perlengkapan dan Peralatan Rumah Tangga 6 persen; dan Barang dan Jasa Lainnya sebesar 5 persen. Komunikasi, Pendidikan, Rekreasi dan Budaya, Pakaian dan Alas Kaki, Kesehatan serta Hotel, Kafe, dan Restoran menyumbang 18 persen dari total bobot lainnya.
Halaman makro untuk negara lain di Afrika
Apa itu Tingkat Inflasi?
Inflasi adalah salah satu indikator makroekonomi yang paling krusial dalam memahami kesehatan ekonomi suatu negara. Di situs kami, eulerpool, kami berkomitmen untuk menyediakan data ekonomi yang akurat dan terbaru, termasuk tingkat inflasi, untuk membantu pengguna membuat keputusan yang berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum di suatu perekonomian dalam periode waktu tertentu. Perubahan dalam tingkat inflasi mencerminkan perubahan daya beli mata uang, dan oleh karena itu, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang stabil dan rendah dianggap ideal bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena memberikan kepastian harga kepada konsumen dan bisnis. Namun, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Pada dasarnya, inflasi disebabkan oleh dua faktor utama: permintaan yang berlebihan dan biaya produksi yang meningkat. Ketika permintaan agregat dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi, harga-harga cenderung naik, yang dikenal sebagai inflasi permintaan. Sebaliknya, inflasi biaya terjadi ketika biaya produksi, seperti bahan baku atau upah pekerja, meningkat, dan produsen meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. Pengukuran inflasi biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks harga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai alat utama untuk mengukur tingkat inflasi. IHK mengukur perubahan harga dari sekelompok barang dan jasa yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu, ada juga Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengukur perubahan harga dari sisi produsen, dan meskipun kurang dikenal, indeks ini juga memberikan wawasan penting tentang tekanan inflasi dari sisi penawaran. Dalam analisis makroekonomi, inflasi sering kali dipandang dari dua perspektif utama: inflasi headline dan inflasi inti. Inflasi headline mencakup semua komponen dalam keranjang barang dan jasa, termasuk makanan dan energi yang harganya cenderung sangat fluktuatif. Sementara itu, inflasi inti mengecualikan makanan dan energi, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang inflasi yang mendasarinya. Bank sentral, seperti Bank Indonesia (BI), memainkan peran penting dalam mengelola inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu alat utama yang digunakan adalah suku bunga acuan. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengurangi permintaan agregat dengan membuat pinjaman lebih mahal dan tabungan lebih menarik, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung mendorong konsumsi dan investasi, yang dapat meningkatkan inflasi jika perekonomian beroperasi di dekat kapasitas penuh. Selain suku bunga, kebijakan fiskal yang diimplementasikan oleh pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi. Misalnya, peningkatan belanja pemerintah atau pengurangan pajak dapat meningkatkan permintaan agregat, yang dapat menyebabkan inflasi jika kapasitas produksi tidak dapat segera menyesuaikan. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga inflasi dalam batas yang diinginkan. Efek inflasi terhadap perekonomian sangat luas dan kompleks. Untuk konsumen, inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli, yang berarti mereka dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Ini terutama bermasalah bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan. Bagi bisnis, inflasi dapat menimbulkan ketidakpastian biaya dan menyulitkan perencanaan investasi jangka panjang. Di sisi lain, dalam ekonomi yang melambat, inflasi yang moderat bisa membantu menggerakkan konsumsi dan investasi. Di tingkat global, inflasi di satu negara dapat memiliki dampak signifikan pada perdagangan internasional dan nilai tukar. Misalnya, inflasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan mitra dagang utama dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang dapat membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama membuat impor lebih mahal, yang bisa memicu inflasi lebih lanjut. Memahami faktor yang mempengaruhi inflasi dan metode untuk mengontrolnya adalah penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Di eulerpool, kami menyediakan analisis data inflasi yang mendalam, termasuk tren historis dan proyeksi masa depan, untuk membantu semua pihak mengambil keputusan yang lebih baik. Data yang kami tampilkan berasal dari sumber-sumber resmi dan terpercaya, sehingga pengguna dapat memiliki keyakinan bahwa informasi yang mereka terima akurat dan up-to-date. Untuk mempermudah pengguna, kami juga menyediakan visualisasi data yang intuitif, memungkinkan pengguna untuk melihat perubahan dalam tingkat inflasi secara langsung dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam melalui grafik dan tabel yang informatif. Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membandingkan tingkat inflasi antar periode waktu atau antara berbagai negara. Pada akhirnya, memahami inflasi dan dampaknya adalah kunci untuk mengelola tantangan ekonomi secara efektif. Di eulerpool, kami bangga menjadi sumber utama untuk data inflasi dan alat analisis makroekonomi lainnya, berkontribusi pada peningkatan literasi ekonomi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh Indonesia. Dengan pelayanan dan data yang disediakan, kami berharap dapat membantu pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik untuk masa depan.
Tingkat Inflasi Namibia — FAQ
What is the current Tingkat Inflasi in Namibia?
The current Tingkat Inflasi in Namibia is 4,1% as of 1/5/2026.
How has the Tingkat Inflasi in Namibia changed recently?
The Tingkat Inflasi in Namibia increased from 3,1% (1/4/2026) to 4,1% (1/5/2026).
What is the all-time high for Tingkat Inflasi in Namibia?
The all-time high for Tingkat Inflasi in Namibia was 20,54%, recorded on 1/6/1992.
What is the all-time low for Tingkat Inflasi in Namibia?
The all-time low for Tingkat Inflasi in Namibia was 0,94%, recorded on 1/5/2005.
What is the historical average of Tingkat Inflasi in Namibia?
The historical average of Tingkat Inflasi in Namibia is 8,71%, calculated over the period from 1/1/1973 to 1/5/2026.
Where does the Tingkat Inflasi data for Namibia come from?
The Tingkat Inflasi data for Namibia is sourced from Central Bureau of Statistics, Namibia and published on Eulerpool.