🇩🇰

Denmark Tingkat Inflasi

Harga

Harga
0,7 %
Perubahan +/-
-0,1 %
Perubahan Persentase
-12,50 %

Nilai saat ini dari Tingkat Inflasi di Denmark adalah 0,7 %. Tingkat Inflasi di Denmark menurun menjadi 0,7 % pada 1/2/2026, setelah sebelumnya 0,8 % pada 1/1/2026. Dari 1/1/1981 hingga 1/1/2026, rata-rata PDB di Denmark adalah 2,84 %. Rekor tertinggi sepanjang masa dicapai pada 1/6/1981 dengan 13,00 %, sementara nilai terendah tercatat pada 1/1/2015 dengan -0,10 %.

Sumber: Statistics Denmark

macro_seo_summary_intro macro_seo_summary_downmacro_seo_summary_avgmacro_seo_summary_highmacro_seo_summary_low

Tingkat Inflasi

Tingkat Inflasi

  • 3 tahun

  • 5 tahun

  • 10 tahun

  • 25 Tahun

  • Maks

Tingkat inflasi
Date
Tingkat inflasi
1 Jan 1981
10,60 %
2 Jan 1981
10,80 %
3 Jan 1981
11,30 %
4 Jan 1981
11,90 %
5 Jan 1981
12,20 %
6 Jan 1981
13,00 %
7 Jan 1981
11,50 %
8 Jan 1981
11,70 %
9 Jan 1981
12,00 %
10 Jan 1981
11,90 %
11 Jan 1981
12,30 %
12 Jan 1981
12,20 %
1 Jan 1982
12,30 %
2 Jan 1982
11,80 %
3 Jan 1982
10,50 %
Access this data via the Eulerpool API

Tingkat Inflasi Riwayat

Tingkat Inflasi — Riwayat
TanggalNilai
0,7 %
0,8 %
1,9 %
2,1 %
2,1 %
2,2 %
2 %
2,2 %
1,8 %
1,6 %
...

Indikator Makro Serupa dengan Tingkat Inflasi

Tingkat Inflasi

Di Denmark, kategori terpenting dalam indeks harga konsumen adalah Perumahan dan Utilitas (30 persen dari total bobot). Makanan dan Minuman Non-Alkohol menyumbang 13 persen; Transportasi 12 persen; Rekreasi dan Budaya 11 persen; Barang dan Jasa Lainnya 9 persen; serta Perabotan dan Layanan Rumah Tangga 6 persen. Restoran dan Hotel; Pakaian dan Alas Kaki; Minuman Beralkohol dan Tembakau; Kesehatan; Komunikasi; dan Pendidikan menyumbang 20 persen sisanya dari total bobot.

Apa itu Tingkat Inflasi?

Inflasi adalah salah satu indikator makroekonomi yang paling krusial dalam memahami kesehatan ekonomi suatu negara. Di situs kami, eulerpool, kami berkomitmen untuk menyediakan data ekonomi yang akurat dan terbaru, termasuk tingkat inflasi, untuk membantu pengguna membuat keputusan yang berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum di suatu perekonomian dalam periode waktu tertentu. Perubahan dalam tingkat inflasi mencerminkan perubahan daya beli mata uang, dan oleh karena itu, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang stabil dan rendah dianggap ideal bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena memberikan kepastian harga kepada konsumen dan bisnis. Namun, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Pada dasarnya, inflasi disebabkan oleh dua faktor utama: permintaan yang berlebihan dan biaya produksi yang meningkat. Ketika permintaan agregat dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi, harga-harga cenderung naik, yang dikenal sebagai inflasi permintaan. Sebaliknya, inflasi biaya terjadi ketika biaya produksi, seperti bahan baku atau upah pekerja, meningkat, dan produsen meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. Pengukuran inflasi biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks harga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai alat utama untuk mengukur tingkat inflasi. IHK mengukur perubahan harga dari sekelompok barang dan jasa yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu, ada juga Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengukur perubahan harga dari sisi produsen, dan meskipun kurang dikenal, indeks ini juga memberikan wawasan penting tentang tekanan inflasi dari sisi penawaran. Dalam analisis makroekonomi, inflasi sering kali dipandang dari dua perspektif utama: inflasi headline dan inflasi inti. Inflasi headline mencakup semua komponen dalam keranjang barang dan jasa, termasuk makanan dan energi yang harganya cenderung sangat fluktuatif. Sementara itu, inflasi inti mengecualikan makanan dan energi, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang inflasi yang mendasarinya. Bank sentral, seperti Bank Indonesia (BI), memainkan peran penting dalam mengelola inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu alat utama yang digunakan adalah suku bunga acuan. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengurangi permintaan agregat dengan membuat pinjaman lebih mahal dan tabungan lebih menarik, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung mendorong konsumsi dan investasi, yang dapat meningkatkan inflasi jika perekonomian beroperasi di dekat kapasitas penuh. Selain suku bunga, kebijakan fiskal yang diimplementasikan oleh pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi. Misalnya, peningkatan belanja pemerintah atau pengurangan pajak dapat meningkatkan permintaan agregat, yang dapat menyebabkan inflasi jika kapasitas produksi tidak dapat segera menyesuaikan. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga inflasi dalam batas yang diinginkan. Efek inflasi terhadap perekonomian sangat luas dan kompleks. Untuk konsumen, inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli, yang berarti mereka dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama. Ini terutama bermasalah bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan. Bagi bisnis, inflasi dapat menimbulkan ketidakpastian biaya dan menyulitkan perencanaan investasi jangka panjang. Di sisi lain, dalam ekonomi yang melambat, inflasi yang moderat bisa membantu menggerakkan konsumsi dan investasi. Di tingkat global, inflasi di satu negara dapat memiliki dampak signifikan pada perdagangan internasional dan nilai tukar. Misalnya, inflasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan mitra dagang utama dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang dapat membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama membuat impor lebih mahal, yang bisa memicu inflasi lebih lanjut. Memahami faktor yang mempengaruhi inflasi dan metode untuk mengontrolnya adalah penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Di eulerpool, kami menyediakan analisis data inflasi yang mendalam, termasuk tren historis dan proyeksi masa depan, untuk membantu semua pihak mengambil keputusan yang lebih baik. Data yang kami tampilkan berasal dari sumber-sumber resmi dan terpercaya, sehingga pengguna dapat memiliki keyakinan bahwa informasi yang mereka terima akurat dan up-to-date. Untuk mempermudah pengguna, kami juga menyediakan visualisasi data yang intuitif, memungkinkan pengguna untuk melihat perubahan dalam tingkat inflasi secara langsung dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam melalui grafik dan tabel yang informatif. Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membandingkan tingkat inflasi antar periode waktu atau antara berbagai negara. Pada akhirnya, memahami inflasi dan dampaknya adalah kunci untuk mengelola tantangan ekonomi secara efektif. Di eulerpool, kami bangga menjadi sumber utama untuk data inflasi dan alat analisis makroekonomi lainnya, berkontribusi pada peningkatan literasi ekonomi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh Indonesia. Dengan pelayanan dan data yang disediakan, kami berharap dapat membantu pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik untuk masa depan.

Tingkat Inflasi Denmark — FAQ

What is the current Tingkat Inflasi in Denmark?

The current Tingkat Inflasi in Denmark is 0,7% as of 1/2/2026.

How has the Tingkat Inflasi in Denmark changed recently?

The Tingkat Inflasi in Denmark decreased from 0,8% (1/1/2026) to 0,7% (1/2/2026).

What is the all-time high for Tingkat Inflasi in Denmark?

The all-time high for Tingkat Inflasi in Denmark was 13,00%, recorded on 1/6/1981.

What is the all-time low for Tingkat Inflasi in Denmark?

The all-time low for Tingkat Inflasi in Denmark was -0,10%, recorded on 1/1/2015.

What is the historical average of Tingkat Inflasi in Denmark?

The historical average of Tingkat Inflasi in Denmark is 2,84%, calculated over the period from 1/1/1981 to 1/1/2026.

Where does the Tingkat Inflasi data for Denmark come from?

The Tingkat Inflasi data for Denmark is sourced from Statistics Denmark and published on Eulerpool.